Hidden Rich Man-1

 Aku dilahirkan di sebuah negeri yang penuh dengan komedi. Negeri hijau di tengah hampar lautan, sebuah negeri yang kaya raya terkenal dengan jalur sutranya, tak berlebih bila disebut mutiara pasifik dan kepingan surga di Buni.


perkenalkan namaku Ardhi Wibowo, anak tunggal dari pasangan Alamsyah Wibowo dan Hana Wibowo. aku hidup dalam sebuah keluarga yang amat berkecukupan, keluarga Wibowo, keluarga pertama dalam neger ini, keluarga yang menguasai 70% perekonomian negara ini. Bahkan kami sekeluarga cukup untuk melawan pemerintahan.


sedari kecil ayah dan ibuku mengajarkan sebuah konsep kesederhanaan dalam hidup, walau kekayaan keluarga tak kan habis bahkan untuk membeli setengah negeri ini, namun keluarga kami sendiri hidup dengan sederhana. aku bersekolah di sebuah sekolah pemerintah di tengah Ibukota, aku diharuskan merahasiakan identitas selama berada di ruang publik, hal ini semata-mata agar aku tidak mendapat perlakuan khusus di masyarakat, bagaimanapun status sebagai pelayan Keluarga Wibowo sudah cukup untuk memanggil seseorang setingkat Wali Kota bahkan kadangkala kepala provinsi agar menyambut seorang pelayan Keluarga Wibowo. ya, ini bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan, kekuatan Keluarga Wibowo sekuat itu, sang Presiden saja harus menunduk jika bertemu dengan ayahku.

hari itu, hari pertama aku bersekolah di sebuah sekolah dasar milik pemerintahan di Ibukota, sekolah ini adalah sekolah terbaik di Ibukota, isinya penuh dengan anak orang kaya dan pemegang kekuasaan di negara ini. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, hingga saat aku naik kelas 6, aku mendapat seorang guru yang cukup ditakuti para murid. Diceritakan oleh kakak kelasku dia adalah seorang yang tegas, namun setelah aku bertemu dengannya aku tidak berpikir demikian, menurutku dia adalah seorang penjilat, yang selalu mebeda-bedakan murid di Sekolah. karena saat di Sekolah aku menggunakan identitas seorang anak petani maka aku tidak pernah dianggap olehnya, pernah suatu kali aku datang terlambat,

"Maafkan saya pak, ban sepeda saya bocor, jadi saya harus mampir ke bengkel terlebih dahulu" ucapku kala itu dengan nafas tersengal-sengal.

Dia yang tengah menulis di depan kelas hanya menatapku sekilas, lantas berkata "anak orang miskin sepertimu memang tidak akan punya masa depan, sudahlah kau miskin ke sekolah datang terlambat pula. Sudahlah aku tidak mau mengotori kelasku dengan orang miskin sepertimu yang tidak tahu kata disiplin".

aku hanya diam mendengarnya, sambil menyerngitkan dahi aku bergumam dalam hati, "apa orang miskin tidak boleh melakukan kesalahan?".aku terhanyut dalam lamunanku sendiri sampai tidak menyadari bahwa seorang teman sekelasku yang ternyata juga terlambat dengan santainya berjalan melewatiku dengan senyuman, tidak ada rasa bersalah dalam raut wajahnya, dengan santai ia berkata pada guruku yang tengah mengajar itu,

"pak maafkan aku karena terlambat, aku harus menunggu ayahku selesai meeting dengan client-nya tadi, sehingga tidak bisa terburu-buru" ucapnya.

guruku ang tengah mengajar melihat orang yang berbicara padanya adalah seorang anak konglomerat, Alvin Sanjaya, langsung tersenyum dan berkata sambil melambaikan tangannya "ohh, nak Alvin bapak paham dengan kondisimu, silahkan duduk dan mengikuti pelajaran saya" ucap guruku dengan sumringah beharap bisa menjilat anak konglomerat itu.

"bapak tenang saja, aku akan merekomendasikan bapak pada ayahku, ayahku pemegang 15% saham di sekolah ini, aku akan meminta ayahku untuk menjadikan bapak menjadi kepala departemen kesiswaan"seakan mengetahui isi pikiran gurunya, Alvin membalas dengan baik maksud gurunya itu. sang guru tersenyum senang karena merasa akan segera mendapat kenaikan gaji.

Melihat pemandangan itu aku hanya tersenyum, mau merekomendasikan guru ini? haha itu tidak mungkin karena setengah dari saham sekolah ini milik Keluarga Wibowo, pendiri pertama sekolah ini adalah kakek dari ayahku, Indra Wibowo, generasi kedua keluarga Wibowo, bahkan jika keluargaku tidak punya saham apapun di Sekolah ini, dengan satu panggilan telpon ayahku sudah cukup membuat semua direksi sekolah ini berganti.

Guruku yang melihat aku tersenyum menjadi tidak senang, "heh, kamu anak petani miskin, untuk apa kau tersenyum seperti itu?!, jangan sampai aku melaporkanmu ke departemen disiplin karena tidak hadir tepat waktu di kelasku"

"Bukankah Alvin juga terlambat? Kenapa hanya aku yang tidak diizinkan masuk?" aku bertanya dengan nada yang mulai meninggi.

guruku mendengus,"hah kau tidak akan mengerti keadaan ini, kau tidak tau seberapa sibuk Nak Alvin, dia adalah Tuan Muda Keluarga Sanjaya, ayahnya adalah pengusaha besar di Ibukota, Kakeknya adalah Wali Kota, sebagai Tuan Muda dan pewaris Sanjaya Group tentu dia punya banyak kesibukan, sedangkan kau? apa yang bisa keluargamu lakukan? hanya keluarga petani miskin!!"

Keluarga miskin? bahkan keluarga Sanjaya bisa aku hancurkan dengan satu kalimat.

aku akhirnya menghela nafas, tidak ada gunanya meladeni orang yang isi hatinya hanya uang. "baik pak saya minta maaf karena terlambat di kelas bapak, saya permisi untuk ke perpustakaan" ucapku akhirnya seraya berjalan pergi ke perpustakaan.

saat aku masuk, terdengar suara seseorang, "Tuan Muda, kenapa Tuan Muda tidak masuk kelas? apakah ada masalah? atau jangan-jangan Tuan Muda membolos dari kelas" ucap suara itu.

aku terlonjak kaget dan melihat ke asal suara, di pojok perpustkaan sedang duduk seorang pria tua sambil memegang buku di tangannya, sesekali dia meminum teh yang ada di hadapannya, aku mengedipkan mataku,"Paman Birawa? kenapa paman bisa disini?' aku kebingungan melihat sosok itu disini.

Paman birawa adalah asisten ayahku sekaligus pengawal pribadi ayahku, untuk apa dia disini, perlu diketahui paman birawa sebagai asisten ayahku memilki kekuasaan yang sangat besar di negara ini, dia bisa mengubah kebijakan kementrian dengan satu panggilan telponnya, bahkan dia pernah membatalkan sebuah undang-undang karena Keluarga Wibowo memandang undang-undang itu merugikan. ya sebesar itu kekuasaan Keluarga WIbowo. asisten saja mampu membuat seorang menteri bertekuk lutut.

laki-laki tua itu tersenyum,"Tuan Muda, apakah Tuan Muda sudah merasakan kerasnya hidup di masyarakat?, itulah realitanya kalau kita tidak punya uang dan kuasa, maka kita akan diremehkan. Aku disini untuk membantu Tuan Muda, mulai sekarang aku menjadi pengawal Tuan Muda karena Tuan Besar sudah beristirahat dari jabatan Kepala Keluarga dan akan segera menuju peristirahatan Tetua, dan mulai hari ini Tuan Muda resmi menjadi kepala keluarga yang baru"

aku terhenyak, secepat itu ayahku memilih berhenti? aku menghela nafas.


(BERSAMBUNG)

Komentar